Ringkasan Khotbah

Siklus Hidup Yang Sia-Sia

Penulis : EW | Sun, 8 October 2017 - 17:00 | Dilihat : 13307

Tanggal : 8 Okt 2017

Pengkhotbah : Pdt. Slamet

Pengkhotbah 1:1-11 (TB)

LATAR BELAKANG KITAB DAN PENULIS

Penulis kitab Pengkhotbah menurut tafsir sebagian orang adalah Raja Salomo ( ayat 1: anak Daud, raja di Yerusalem, paling berhikmat ). Diyakini bahwa Salomo pada waktu muda menulis Kidung Agung (kisah percintaan dengan permaisurinya), ketika Salomo sudah semakin matang dia menulis kitab Amsal yang penuh nasihat / wisdom sebagai penuntun kehidupan, dan menjelang akhir hidupnya dia menulis kitab Pengkhotbah. Jadi kitab Pengkhotbah sifatnya adalah perenungan sepanjang kehidupan.

Tetapi ada juga yang menafsir bahwa penulisnya bukan Salomo, melainkan "Super Salomo", sebuah tulisan satire yang seolah "mengejek" Salomo, bahwa walaupun dia sangat bijaksana tapi dia tak mampu memahami segala hal.

Tapi kita cenderung mengatakan ini memang penulisnya adalah Salomo, sebab lebih mudah untuk menulis jika ia adalah pelakunya sendiri, dan hanya org yang sudah sampai pada puncak karir bisa berkata bahwa semuanya sia-sia.

Motto dari Pengkhotbah segala sesuatu adalah sia-sia. Sepertinya sangat negatif.

Segala sesuatu itu maksudnya apa? (Ay.1-3 ) Segala sesuatu maksudnya, bukan segala hal di alam semesta ini, namun segala jerih payah manusia di bawah matahari, yakni hal yang duniawi / fana / sementara. Memang kualitas dunia ini semakin menurun sejak manusia jatuh dlm dosa. Kalimat "di bawah matahari" diulang spi 30x lebih selama kitab Pengkhotbah.

Sebagai lawan sia-sia ialah bermakna . Apakah yang bermakna itu? Segala sesuatu yang surgawi (lawannya duniawi).

PERLU DIPERHATIKAN
bahwa yang dimaksud SIA-SIA adalah SEGALA SESUATU YG DI LUAR ALLAH. Sia-sia bisa juga berarti ringan bobotnya, seperti asap yang mudah menguap/lenyap. Ada beberapa kesia-siaan di bawah matahari :

1. Jerihpayah dlm bekerja

PKH 2:18. Bukan berarti kita tidak boleh bekerja, bahkan Alkitab menyuruh kita harus bekerja dengan rajin mencontoh semut, dan orang yang tidak bekerja tak boleh makan. Tapi mengapa Pengkhotbah menyebutnya sia-sia? Sebab setelah ia memburunya, ia bersandar pada apa yang dihasilkan itu. Dia berharap apa yang dikumpulkannya bisa memelihara hidupnya/ menjamin keturunannya. Jadi yang sia-sia adalah karena manusia bersandar pada saat yang sementara.

2. Siklus hidup manusia :
Lahir - sekolah - pacaran - menikah - punya anak - menyekolahkan anak- menikahkan anak2 - berharap kalau sudah tua; mengharapkan untuk menerima balasan / pemeliharaan dari anak. Padahal kita tahu tak semua anak tahu balas budi kepada orangtuanya. Bahaya yang kedua adalah jika manusia terjebak pada yang fana. Misalnya menggantungkan harapan pada anak tadi.

3. Siklus berulang / perangkap rutinitas
Manusia sering menjalani hidupnya bagaikan mesin: bangun tidur, mandi, makan, bekerja, pulang malam, tidur, besoknya seperti itu lagi. yang harusnya kita lakukan adalah BERTANYA PADA TUHAN : APA TUJUAN HIDUP KITA, Supaya HIDUP INI TDK SIA-sia. Solusinya bagaimana?
Jangan menjalani hidup berdasarkan kronologis nya saja/ dari detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam menggelinding seperti mesin. MENJADI TDK SIA-sia KALAU KITA TAK SEKEDAR MENJALANI HIDUP INI SBG KRONOS, TAPI JUGA MENEMUKAN KAIROS.

Kairos/momentum adalah waktunya Tuhan.

KESIMPULAN :
Dalam pengalaman hidup ini selain ada dinamika kehidupan ternyata juga ada dinamika iman -- yakni jika kita menyadari bahwa kita bisa bernapas saja itu adlh karunia Tuhan, dengan demikian hidup ini akan menjadi bermakna.

Tugas kita adalah :
* MENEMUKAN KEKEKALAN DLM KESEMENTARAAN.
* MENEMUKAN KEABADIAN DALAM KEFANAAN.

Ternyata hidup ini menjadi bermakna bila kita bisa menikmati sesuatu yg keci2/ sederhana .

Artinya dlm kesia2anpun, ternyata ada berkat Tuhan yg kita syukuri

PKH 8:15, Bisa makan saja adl berkat Tuhan.

PKH 9:12, Bisa tidur saja patut kita syukuri.

PKH 9:9, Kebersamaan dg pasangan hidup pun adalah anugerah Tuhan.

Ternyata dalam kesia2an pun kita dpt menemukan TUHAN.

HIDUP INI MENJADI TIDAK SIA2 JIKA KITA DPT BERSANDAR PADA ALLAH YG KEKAL.

Hidup kita lahir telanjang, mati jg telanjang. Jadi sepanjang garis kehidupan ini, apakah ada kekayaan atau tidak, tak perlu menjadi masalah. *

Resume by EW

(Ringkasan Ini Belum Diperiksa Pengkhotbah)

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top