Ringkasan Khotbah

Akhir Hidup Orang Pintar Dan Orang Bodoh (Pengkhotbah 2;12-19)

Penulis : EW | Sun, 19 November 2017 - 22:31 | Dilihat : 4633

Oleh : Pdt Bigman Sirait
GRI, 19 November 2017

Pengkhotbah 2:12-19
2:12 Lalu aku berpaling untuk meninjau hikmat, kebodohan dan kebebalan, sebab apa yang dapat dilakukan orang yang menggantikan raja? Hanya apa yang telah dilakukan orang.

2:13 Dan aku melihat bahwa hikmat melebihi kebodohan, seperti terang melebihi kegelapan.

2:14 Mata orang berhikmat ada di kepalanya, sedangkan orang yang bodoh berjalan dalam kegelapan, tetapi aku tahu juga bahwa nasib yang sama menimpa mereka semua.

2:15 Maka aku berkata dalam hati: "Nasib yang menimpa orang bodoh juga akan menimpa aku. Untuk apa aku ini dulu begitu berhikmat?" Lalu aku berkata dalam hati, bahwa inipun sia-sia.

2:16 Karena tidak ada kenang-kenangan yang kekal baik dari orang yang berhikmat, maupun dari orang yang bodoh, sebab pada hari-hari yang akan datang kesemuanya sudah lama dilupakan. Dan, ah, orang yang berhikmat mati juga seperti orang yang bodoh!

2:17 Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.

2:18 Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku.

2:19 Dan siapakah yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh? Meskipun demikian ia akan berkuasa atas segala usaha yang kulakukan di bawah matahari dengan jerih payah dan dengan mempergunakan hikmat. Inipun sia-sia.
------

Pengkotbah mengkomparasi antara hikmat dan kebodohan. Perbandingannya sangat kontras, seperti antara terang dan gelap. Namun Pengkotbah menyadari bahwa nasib yang sama akan dialami antara orang yang berhikmat dan yang bodoh. Ketika Pengkotbah melompat pada jabatan yang tinggi yang dapat dicapai seorang manusia yaitu Raja, ternyata Pengkotbah menyadari bahwa semuanya sia-sia, termasuk kekuasaan.

Kitab Pengkotbah banyak memakai kata SIA-SIA. Sia-sia itu artinya bukan tidak ada gunanya ; maksud kata sia-sia adalah sementara, dimakan ruang dan waktu .Contoh: - Sesudah mati, orang hanya akan dikenang sampai 1-2 generasi saja, sesudah itu kenangan kepadanya akan lenyap; -Jabatan raja hanya sementara dan sesudah itu harus ditanggalkan kepada penerusnya.

Sepintar apapun, sekaya apapun, semua orang bisa mengalami sakit atau kemalangan, atau mengalami persoalan.
NASIB YANG SAMA MENIMPA MEREKA SEMUA. Siapa manusia di bawah kolong langit ini yang bisa lari dari semuanya itu?!

Pengkotbah "menemukan dirinya" dan sadar bagaimana hidup ini harus dijalani. Keunggulan yang kita miliki itu sangat limitasi, di atas semuanya kita harus mencari yang lebih tinggi, yaitu Allah. Allah-lah yang mengatasi segala sesuatu dan tidak dibatasi oleh kesementaraan ruang dan waktu. Merupakan hal yang paling menyedihkan bila kita TIDAK sadar diri: apakah kita itu berhikmat atau tidak ? Apakah kita itu terang atau gelap? Jangan mengaku punya hikmat namun akhirnya 'kecemplung' juga sama seperti orang bodoh.

Tidak ada kenangan yang kekal, semua dimakan oleh waktu. Orang berhikmat juga akan dilupakan sama seperti orang bodoh. Namun seharusnya ada sesuatu yang KITA UKIR DALAM HIDUP INI. Orang berhikmat akan tahu diri bahwa waktunya sangat singkat. Orang berhikmat selalu merenung dalam perjalanan waktu yang pendek ini dan menghitung apa yang belum dilakukannya. Sebaliknya orang bebal selalu menghitung2 dan berbangga atas pencapaiannya / apa yang telah dikerjakannya. Orang berhikmat akan selalu berusaha mengembangkan apa yang dimilikinya, sebaliknya orang bebal akan "mandeg" karena sudah berpuas diri.

Hikmat itu memahami bagaimana seharusnya menjalani hidup ini. Orang berhikmat dan orang bodoh selesai juga. Masalahnya adalah: apa yg kita lakukan di bawah matahari?! Menyadari bahwa waktu cuma sementara, jangan kita jadi bodoh. Bagaimana kita harus mempertanggungjawabkan kepada Tuhan sang Pemberi hidup?

Yang terpenting dari semuanya adalah menjalani hidup yang berkenan kepada Tuhan. Ingat bahwa kebersamaan kita dalam hidup ini sementara, perpisahan kita juga sementara. Jadi apa yang abadi? Tidak ada! Apa yg hrs dilakukan? Lakukan yg benar di waktu yg sementara ini, karena waktu ini akan habis.

KESIMPULAN:

KARENA MENYADARI BAHWA HIDUP INI HANYA LIMITASI DAN SEMUA ORANG AKAN MATI, MAKA BUATLAH HIDUP INI BERNILAI TINGGI.

RENUNGKANLAH APA YANG KITA LAKUKAN DG HIDUP INI DAN APA YANG KITA WARISKAN UTK GENERASI BERIKUTNYA?

Resume by EW

(Ringkasan Ini Belum Diperiksa Pengkhotbah)

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top