Ringkasan Khotbah

Gembala Yang Bahagia

Penulis : EW | Tue, 19 December 2017 - 15:02 | Dilihat : 1085

Tanggal : 17 Desember 2017

Pengkhotbah :Pdt. Bigman Sirait

Tema : "GEMBALA YANG BAHAGIA" [Rally Natal 2 GEDUNG GEREJA TANPA NATAL]

Ayat : Lukas 2:8-15

Pendahuluan
Figur gembala kontras dengan figur imam ( kotbah Minggu lalu mengenai Imam tanpa Iman ). Imam adalah orang terhormat. Imam dimintai berkat oleh umat. Sedangkan gembala itu dikucilkan dan dicurigai keberadaannya, orang-orang terpinggirkan. Namun kabar sukacita dari Sorga dinyatakan justeru kepada para gembala, sungguh satu paradoks!

Jadi Natal itu sebenarnya ada di mana? Di para gembala yg bahagia, atau di diri imam tanpa iman?
----

Dalam hidup ini kita sering penuh dengan stigma kepada orang lain. Gembala dianggap sebagai orang terkutuk (karena pada umumnya mereka miskin), dianggap jauh dari berkat Allah. Tak jauh beda dengan umat masa kini, yang miskin dan sakit, sering dianggap terkutuk dan jauh dari berkat Tuhan.

Tempat para gembala adalah padang rumput. Mereka tidur harus melawan rasa dingin yang luar biasa. Risiko mereka terlalu tinggi, sedangkan gaji mereka terlalu kecil. Profesi gembala adalah pilihan terakhir di Israel. Tidak ada seorangpun mau memilih jadi gembala kecuali terpaksa. Mereka jauh dari masa depan, Tidak bisa membayangkan besok hari seperti apa; mrk menyambung hidup dari hari ke hari, dengan mempertaruhkan hidup setiap hari.

Apa yg mau diharapkan dari Gembala ? Tidak ada! Namun Tuhan Yesus mengatakan, Akulah Gembala yang baik!!! Padahal menjadi gembala itu selain profesi yang dihindari di Israel, juga merupakan profesi yang sangat susah: harus mempertaruhkan nyawa bagi domba-dombanya. Tapi zaman sekarang banyak orang berlomba jadi pendeta atau 'gembala' umat, karrna dombanya gemuk-gemuk, siapa yang Tidak mau? Hati-hati, jangan kita kelihatan tampak terhormat, tapi terlaknat.

Pertanyaan menarik: Di mana letak bahagia?

1. Bahagia bukan di status keagaaman (seperti imam / pendeta), tapi kualitas kehidupan keimanan: Bagaimana kita hidup di dalam kehendak Tuhan, yakni ketika kita berjalan dengan jalan kebenaran.

2. Gereja itu bukan gedung yang megah, tapi hubungan yang erat dengan Tuhan. Tidak ada gereja yang bisa berdiri jika pendeta-pendeta Tidak mau berdarah-darah. Oleh sebab itu, gereja Tidak boleh dihitung secara kuantitatif (banyaknya jemaat dan banyaknya cabang), sebab Gereja bukanlah lahan bisnis.

3. Menjadi orang percaya, itulah bahagia. Yang berbahagia ialah mereka yang mendengar Firman Allah, merenungkannya siang dan malam, serta melakukannya dalam kehidupan. Contoh mereka yang bahagia:
- PB : janda miskin yang memberi persembahan 2 peser dan dipuji oleh Yesus.
- PL : Janda miskin di Sarfat yang dipelihara melalui nabi Elia.
Pertanyaannya, zaman sekarang mana mau yang jadi janda, miskin pula?! Tapi Alkitab mencatat mereka diperhatikan Allah. Jadi bahagia itu haruslah dimaknai hakikatnya, bukan fenomenanya (gejala yang kelihatan ) saja. Kaya bukan dosa, miskin bukan aib.

Gembala yang berbahagia menunjukkan pada kita, bahwa bukan seberapa banyak harta yang kita miliki, tapi bagaimana kita memakainya.
Bukan seberapa panjang usia kita, tapi bagaimana hidup ini bermakna bagi orang lain. Entah itu uang atau umur panjang, pakailah untuk menyenangkan hati Tuhan.

Gembala bahagia, karena disapa surga. Bagaimana respon kita ketika kita disapa surga? Surga menyapa kita bukan karena kita adalah orang yang pintar/ bijak/ apapun, tapi karena hati kita tulus mau menyembah Dia.

Penutup
Natal adalah perenungan kita: Tuhan lahir tapi manusia menolaknya,Tidak ada satupun yang membuka pintu untuk Maria dan Yusuf waktu mereka mengetok pintu. Mereka yang hadir di natal pertama adalah para gembala yang bahagia, bukan imam tanpa iman.

Dia yang telah kita tolak, tapi Dia memberkati kita luar biasa. Patutlah kita mengucap syukur secara mendalam kepada-Nya. Jadikanlah itu perenungan Natal kita.

Ibu Elizabeth Wahyuni

(Ringkasan Ini Belum Diperiksa Pengkhotbah)

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top