Sapaan Gembala

Apalah Arti Ibadahmu Kepada Tuhan?

Penulis : Pdt Gelen Marpaung | Thu, 22 May 2025 - 10:39 | Dilihat : 4055

Setiap kali kita datang ke gereja, mungkin duduk di bangku yang sama, menyanyikan lagu pujian, dan mendengarkan firman Tuhan. Namun, pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: Apalah arti ibadahku di hadapan Tuhan?

Pertanyaan ini bukanlah tuduhan, melainkan ajakan untuk merenung. Lagu dari buku Pelengkap Kidung Jemaat (PKJ) nomor 264 ini menuntun kita masuk ke dalam pemahaman yang lebih dalam tentang apa itu ibadah sejati. Bait pertama lagu ini langsung menantang motivasi hati kita: "Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada rela sujud dan sungkur? Apalah arti ibadahmu kepada Tuhan, bila tiada hati tulus dan syukur?"

Ibadah bukanlah sekadar rutinitas. Ibadah bukan semata tentang kehadiran fisik, tetapi tentang kondisi hati. Tanpa kerendahan hati dan rasa syukur, ibadah menjadi kosong. Bisa saja kita bernyanyi dengan suara lantang dan memberi persembahan besar, tetapi jika hati kita tidak tulus, maka semua itu kehilangan makna di mata Tuhan.

Alkitab mengajarkan bahwa Tuhan melihat hati, bukan hanya tindakan luar (1 Samuel 16:7). Yesus pun menegur orang-orang Farisi yang rajin beribadah lahiriah, tetapi hatinya jauh dari Tuhan (Matius 15:8-9). Tuhan menginginkan ibadah yang mengalir dari relasi yang intim dengan-Nya, bukan sekadar formalitas.

Lagu PKJ 264 melanjutkan:

"Ibadah sejati, jadikanlah persembahan. Ibadah sejati: kasihilah sesamamu!"

Inilah inti dari ibadah yang berkenan kepada Tuhan: mengasihi sesama. Rasul Yakobus berkata, "Ibadah yang murni dan tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka" (Yakobus 1:27). Artinya, ibadah sejati tidak berhenti di dalam gedung gereja. Ibadah sejati terus berlanjut ketika kita pulang dan mulai mengasihi, menolong, dan melayani orang lain.

Kita dipanggil bukan hanya untuk “pergi ke gereja”, tetapi menjadi gereja yang hidup di tengah dunia yang amat mendamba kasih sejati dengan motivasi murni. Ibadah sejati adalah ketika kita mendekap yang hancur, menopang yang lemah, dan berjalan bersama yang sedang tertatih.

"Marilah ikut melayani orang berkeluh, agar iman tetap kuat serta teguh."

Bagian ini mengingatkan bahwa pelayanan kepada sesama bukan hanya tugas rohani, tetapi adalah bentuk nyata dari ibadah kita. Di sinilah kita menemukan makna terdalam dari beribadah: ketika kita hadir bagi mereka yang membutuhkan.

Ibadah sejati bukan hanya tentang pujian yang merdu, tetapi tentang hati yang jujur dan hidup yang tulus di hadapan Tuhan dan sesama manusia.

"Berbahagia orang yang hidup beribadah, yang melayani orang susah dan lemah." Kebahagiaan sejati lahir bukan dari kesenangan pribadi, tetapi ketika kita menjadi saluran kasih Tuhan bagi orang lain.

Wah, alangkah banyak mutiara yang bisa ditemukan dalam lagu ini. Lagu ini juga unik dan bernilai karena ditulis oleh orang Indonesia dan juga dipadupadankan dalam untaian nada khas salah satu etnik di Indonesia, yakni Melayu. Tidak mudah mencari dan menemukan lagu pujian Kristiani seperti demikian.

Akhirnya, marilah kita bertanya sekali lagi kepada diri sendiri: Apalah arti ibadahku (selama ini) kepada Tuhan?

Kiranya lagu ini menggugah kita untuk tidak hanya menjadi umat yang rajin beribadah, tetapi menjadi umat yang hidup dalam kasih, kejujuran, dan kerendahan hati. Sebab di sanalah Tuhan berkenan. Di sanalah ibadah kita sungguh berarti dan menemukan makna yang paling hakiki.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top