Pujian, siapa yang tidak menginginkannya? Banyak orang semakin yakin dan bangga akan sebuah kehidupan yang dijalaninya, ketika kata-kata pujian menghampiri dirinya. Namun apa yang kita pikirkan, ketika pujian berganti menjadi celaan? Alkitab menuliskan: “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta” (Wahyu 2:2).
Firman Tuhan, mengungkapkan pujian yang sungguh luar biasa bagi jemaat di Efesus, mereka mengerjakan pekerjaan yang mulia, melayani pekerjaan Tuhan dengan penuh perjuangan. Rasul Paulus memuji mereka, karena imannya kepada Yesus Kristus dan kasihnya kepada orang-orang kudus (Efesus 1:15), sudah terbukti. Yohanespun menuliskan hal yang sama, mereka berjerih lelah dalam pelayanan, bertekun memelihara iman yang sungguh bahkan mereka melawan pengajar-pengajar palsu dengan begitu berani. Tetapi dibalik seluruh yang mereka lakukan justru mereka dicela oleh Sang Pemilik Kehidupan.
Jemaat Efesus yang tampak hebat mengerjakan pelayanan, tidak mengenal lelah, sabar dan menderita karena nama Tuhan, tetapi semuanya menjadi sirna, tidak berarti apa-apa dihadapan Tuhan. Pujian kini menjadi celaan dari Tuhan. Mengapa demikian? “… Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula” (Wahyu 2:4). Celaan bukan datang dari manusia, tetapi justru datang dari Tuhan sendiri. Betapa menyedihkan, ketika semua yang kita kerjakan dengan baik tanpa mengenal lelah tetapi justru menjadi tidak berarti. Percaya kepada Tuhan itu baik, mengerjakan pelayanan dengan baik sudah seharusnya, tetapi itu semua tidaklah cukup.
Tuhan bukan hanya menghendaki jemaat Efesus giat, dan setia mengorbankan diri untuk mengerjakan pekerjaan yang bersifat rohani, tetapi jangan sampai lupa untuk tujuan utamanya. Berjerihlelah dalam melayani, adalah tuntutan yang serius, tetapi cinta akan Tuhan harus tetap terjaga. Semangat juang untuk melakukan pekerjaan yang baik itu penting, tetapi fokus dan motivasi diri tertuju pada ketetapan Tuhan. Maka, menjadi penting adalah, kasih dan cinta kepada Tuhan harus terus bertumbuh untuk menyenanghan hatiNya. Itulah yang dikenan oleh Tuhan. Melayani pekerjaan Tuhan karena gairah mengasihi Tuhan, harus diwujudnyatakan secara bersama, melayani dan mengasihi mereka dengan sungguh, karena memang kita dipanggil untuk tujuanNya.
Rutinitas pelayanan yang baik, dicela oleh Tuhan, karena jemaat meninggalkan kasihnya yang semula kepada Tuhan. Semangat untuk menjadi saksiNya, harus terus diperjuangkan, tetapi jangan lupa, semangat mengasihi Tuhan harus, jangan sampai kita mengabaikannya. Ingat, kasih umat kepada Tuhan yang memudar, akan menjadi cela dihadapanNya. Tuhan menghendaki kita, mengasihiNya sebagai dasar mengasihi sesame dan melakukan apapun, sehingga berkenan kepadaNYA.
Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat (Wahyu 2:5). Tuhan menghendaki pertobatan, untuk kembali mengasihi sesamamu dengan cara yang berkenan pada Tuhan. Berbahagialah kita yang melayani dan mengasihiNya dengan kasih yang tulus iklas, karena itulah yang dikehendakinya bagi kita yang percaya kepadaNya. Tuhan Memberkati!