Ringkasan Khotbah

Takutlah Tuhan, Peganglah Nazarmu

Penulis : EW | Sun, 8 July 2018 - 17:00 | Dilihat : 248

GRI 8 Juli 2018

Pdt Bigman Sirait

Takutlah Tuhan, Peganglah Nazarmu

Pengkhotbah 5:1-7

Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat.

Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit.

Karena sebagaimana mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan, demikian pula percakapan bodoh disebabkan oleh banyak perkataan.

Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu.

Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya.

Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu?

Karena sebagaimana mimpi banyak, demikian juga perkataan sia-sia banyak. Tetapi takutlah akan Allah.

--

Peringatan yg begitu keras diberikan ketika kita hendak melangkahkan kaki ke rumah Allah.

"Menghampiri utk mendengar lbh baik daripada berbicara yg dilakukan oleh org2 bodoh."

Tuhan mau ketika kita berjalan ke rumah Allah adalah utk mendengar apa yg Tuhan mau katakan , TDK sekedar melakukan ritual ibadah kita.

Kita perlu berhati-hati sebab ritual di gereja bisa membuat kita berdosa .

Demikian juga kita perlu berhati2, jangan sampai sepertinya kita berdoa, tapi doa kita menjadi dosa kita .

Misalnya doa itu utk mengatur Tuhan, bukan memohon pimpinanNya.

Seharusnya doa adalah dialog dg Allah .

Alkitab menceritakan, Tuhan Yesus menghardik org2 yg berada di bait Allah.

IA berkata 'Engkau menjadikan rumahKu sbg sarang penyamun"

Tuhan juga menegur imam2 selaku pemimpin agama, dan mengatakan mrk TDK masuk surga, bahkan lebih celaka lagi, mrk juga menghalangi orang utk masuk surga.

Oleh sebab itu,

Betapa penting kita menjaga langkah ketika kita hendak ke rumah Allah dan menghampiri Dia.

Jangan sampai kita menggenapi nubuatan nabi Yesaya yg berkata : ' Bangsa ini memuliakan Allah dg bibirnya, tapi hatinya menjauh drpd Ku '.

Orang Farisi merasa SDH melakukan kewajiban2 agamanya.

Farisi mewakili org beragama, yg merasa telah mempersembahkan seluruh yg dia miliki, tapi lupa utk mempersembahkan hidupnya.

Sebaliknya pemungut cukai merasa diri sbg orang berdosa, tetapi justru doanya yg didengar dan dibenarkan oleh Allah.

"Orang yg perkataannya sedikit" artinya bukan pendiam, tapi orang yg berpikir dulu, baru mengeluarkan kata2 yg tepat.

Harusnya kita banyak berpikir, sedikit bicara, jangan sedikit berpikir, banyak bicara.

Spt kata Amsal, perkataan yg tepat itu spt paku yg masuk ke dalam.

Jangan kita mengumbar janji di hadapan Tuhan tapi kita tidak bisa menepatinya.

Tetapi jangan juga berkata, "Saya TDK berani berjanji, drpd TDK bisa menepati." --> Akhirnya kita bersembunyi di balik kata2 itu dan TDK melakukan apa2.

Kita harus jujur pertama2 pada diri sendiri.

Barangsiapa berjanji dan TDK menepati, itu menghina diri sendiri.

Barangsiapa bekerja dan TDK menuntaskannya, itu juga menghina diri.

Kita harus mampu bertanggungjawab pada diri sendiri, barulah kita bisa bertanggungjawab kpd Allah di surga.

"Jangan bernazar kalau kita TDK bisa tepati."

Gereja sering menyuruh jemaat bernazar supaya permintaannya dipenuhi Tuhan, padahal bernazar spt itu sebenarnya tidak perlu.

Kalau kita sdh melakukan kehendakNya, TDK berarti semua akan mulus jalannya.

Tetapi kita tidak usah kecil hati : sebab bukankah seharusnya kita ini sdh mati krn dosa, tetapi diberiNya kita kesempatan utk hidup, mengapa harus cengeng menghadapi derita ?!

TDK ada yg lbh indah kecuali kita hidup takut akan Allah.

Kalau kita mati, kita mati di dalam Dia, apa lagi yg harus kita takutkan.

Umur panjang atau pendek itu TDK penting,

Yg penting adalah bagaimana kita mengisinya, yakni dg takut akan Allah.

Tidak penting banyak harta atau sedikit harta.

Yg patut kita sesali bukan kekayaan, tetapi jika kita TDK hidup dlm Tuhan di dlm kekayaan kita.

TDK semua yg kita inginkan bisa tercapai, dan jgn sampai kita menganggap persoalan itu bukan (sbg) berkat.

Melalui persoalan, Tuhan sedang memproses kita. Itu adalah berkat yang indah.

TDK semua jalan kita mulus, tapi

harus tetap hati2 dalam mengucapkan perkataan : Jangan bersungut-sungut, ngomel /marah.

Kesaksian pribadi Pak Bigman : ketika melayani Tuhan, Tuhan TDK bebaskan dari sakit penyakit dan dari banyak ketidaknyamanan, spt tdk bisa tidur dll.

Mazmur 73

Orang benar hidup dlm kesulitan, orang fasik hidup dlm kenikmatan

Jangan kita iri kepada orang fasik sekalipun kelihatannya mereka sukses luarbiasa di mata orang dunia. Misal pendeta yg mengajarkan ketidakbenaran, perilakunya koruptif dll tapi secara kuantitatif jumlah jemaatnya besar dan berkembang terus.

Tuhan bisa menghancurkan orang fasik dlm "sukses dosanya" .

Mengapa? Sebab mulus jalannya menuju ke neraka.

Orang berdosa mewariskan kehidupan yg TDK ingin dikenang orang. Sungguh menyedihkan.

Orang benar memang TDK bisa menjamin kehidupan anak cucunya kelak spt apa, tapi orang benar bisa mewariskan kebenaran firman Tuhan.

"Jangan sampai Tuhan merusak pekerjaan tangan kita" - artinya, apa yg kita pikir keberhasilan, malah menjadi kegagalan.

Q n A :

Q : Apakah kalau orang mimpi selalu ada artinya? Contoh Yusuf.

A : Itu adalah zaman pra-taurat, belum ada firman Tuhan yg tertulis. Sekarang kita sdh memiliki panduan lengkap melalui firman Tuhan.

Jika Yusuf diteguhkan Tuhan melalui mimpi agar menceraikan Maria, kita TDK perlu ditegur melalui mimpi utk hidup berdamai dg pasangan hidup kita.

Dari kitab pengkhotbah ini jelas bahwa mimpi disebabkan oleh kesibukan.

*Ibu Elizabeth Wahyuni

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)

Lihat juga

Komentar


Group

Top