Ringkasan Khotbah

Hidup Dalam Kristus: Bijak Mengasihi Diri

Penulis : JA | Thu, 11 September 2025 - 16:25 | Dilihat : 637

Ringkasan Khotbah, 07 September 2025

Hidup dalam Kristus: Bijak Mengasihi Diri (Pdt. Em. Simon Stevi)

Manusia yang diciptakan dan ditebus Allah itu begitu ajaib dan berharga. Melalui hidup yang diubahkan, Allah mau kita berdampak dan berbagi pada sesama melalui tubuh yang kita rawat, guna menjadi saluran berkat yang memuliakan Allah Trinitas, dengan memberitakan karya-Nya yang telah memanggil kita keluar kepada terang-Nya yang ajaib.

Stephen Covey mengatakan, setiap manusia punya 4 anugerah kemampuan (kesanggupan), yaitu:

  1. Kesadaran diri
  2. Hati nurani
  3. Kehendak bebas
  4. Imajinasi kreatif, yang dibatasi oleh kreasi Allah

Menurut Covey, 4 hal inilah yang memberi kita kebebasan yang tertinggi sebagai manusia. Dengan memiliki hal-hal ini, kita mempunyai kekuatan untuk memilih, kemampuan untuk merespons, dan energi untuk mengubah.

Kalau memang kita di dalam Kristus, seharusnya hidup kita berubah, tetapi kenyataannya tidak. Jika hidup kita tidak berubah, maka akan sulit berbuah. Sebaliknya, jika hidup di dalam Kristus, maka tinggal menunggu waktu saja, dan benih kehidupan kita pasti akan berbuah.

Mazmur 139 menjadi cara Daud untuk mengasihi dirinya sendiri, menunjukkan keinginannya untuk memahami kehendak Tuhan dan memiliki kasih yang seimbang, sehingga dia dapat menjadi sosok yang rendah hati dan tidak egois. Menurut Covey, ketika Daud berperang menghadapi Goliat, Daud memiliki keberanian yang mengandung kesadaran diri dan hati nurani. Hal ini mengingatkan kita bahwa di dalam diri kita yang sudah ditebus Tuhan Yesus, ada suatu potensi yang disebut dengan kesadaran diri (self-awareness).

Sebagai makhluk yang bernilai, manusia harus diberikan kuasa untuk memilih. Kalau tidak, maka sewaktu kita berbuat baik, itu seperti suatu desain yang sudah diatur. Tetapi, jika kita memilih untuk melakukan sesuatu yang baik daripada yang tidak baik, itu luar biasa. Ketika kita memiliki kesadaran diri tanpa hati nurani dan kehendak bebas, maka apapun yang kita pikirkan pasti menyeleweng dari kehendak Allah.

Kenapa manusia harus bijaksana dalam mengasihi dirinya di dalam Kristus? Pertama, manusia boleh saja merawat diri menjadi sehat dan hebat, tetapi kalau tubuh yang sehat itu digunakan untuk menikmati dosa, maka kita harus memikirkan ulang arti “merawat diri sendiri” yang sebenarnya. 4 anugerah yang disebutkan Covey (kesadaran diri, hati nurani, kehendak bebas, dan imajinasi kreatif pada kreasi Allah) akan mendatangkan kebaikan.

Kedua, kesadaran diri yang kita punya bukan lagi seperti apa yang kita punya di masa lalu, karena itu sudah berujung pada kematian, melainkan kesadaran diri yang bukan dari diri kita sendiri (Efesus 2:8-10), juga memiliki kehidupan dan pemulihan yang berasal dari Allah. Ini bukanlah kesadaran diri yang merupakan upah, tetapi pemberian gratis dari Allah agar kita menjadi pengabar Injil. Marcus Garvey mengatakan, jika Anda tidak memiliki kesadaran diri yang sedalam itu, maka Anda akan kalah 2 kali dalam perlombaan kehidupan (pertama, di masa lalu yang berdosa, kedua di masa depan, karena apa yang ada di depan mata kita untuk merawat diri itu tidak kita gunakan untuk menyampaikan kabar baik bahwa dosa itu serius). Kalau hari ini kita tidak menjadi pecundang, sadarlah bahwa kita ini berharga di mata Tuhan.

Efesus 2:21-22 mengatakan bahwa ketika kita tahu siapa diri kita, namun kita tidak memercayakan diri kita pada Allah, maka kita akan “kalah” 2 kali dalam pertandingan kehidupan. Tetapi, saat keyakinan diri kita tumbuh di dalam Allah dan kita “menang”, ketahuilah bahwa tubuh yang kita rawat ini adalah wadah di mana Roh Kudus tinggal di dalamnya. Apa yang kita punya sesungguhnya bukanlah milik kita yang bisa kita nikmati sesukanya, melainkan untuk memuliakan Allah Trinitas.

1 Korintus 6:19-20 mengajak kita untuk meminta Allah menyelidiki hati kita, niscaya kita tidak hanya sadar bahwa diri kita dipulihkan dalam-Nya, tetapi juga Roh Kudus tinggal di dalam diri kita. Roh Kudus selalu ada dalam diri kita, tetapi kita tidak sadar akan keseriusan dampak dosa dalam hidup kita.

Ketiga, Maya Angelou mengatakan, “If we lose love and self-respect for each other, this is how we finally die”. Artinya, jika kita menghilangkan cinta dan respek diri bagi sesama, pada akhirnya inilah cara kita mati. Kita bisa menjadi manusia baru hanya karena izin Allah semata, dan Allah mau agar kita saling mengasihi. Saat kita kehilangan cinta Kristus yang menebus kita dari dosa, maka kita sebenarnya sedang menuju kepada kematian, karena seharusnya kasih itu memampukan kita untuk menghargai dan berdamai dengan diri sendiri, selayaknya relasi vertikal dengan Allah dan horizontal dengan sesama. Karenanya, kita akan mengerti, bahwa kita harus melakukan apa yang kita tahu dan imani, yaitu melakukan kehendak-Nya dengan cara:

  • menjaga hati untuk selalu berpikir akan hal yang positif dan sesuai dengan kebenaran-Nya, berubah dan diperbarui dalam pemikiran.
  • memanfaatkan waktu dan bergaul dengan komunitas yang baik agar terus berbuah dalam Allah.

Sewaktu kita sudah bijak dalam mengasihi diri dalam Kristus, maka apa yang kita tahu, apa yang kita imani, dan apa yang kita perbuat merupakan tanda bahwa kita diregenerasikan dan diperbarui oleh Roh Kudus. Kita juga dimampukan untuk memberitakan apa yang kita sudah ketahui itu kepada sesama.

Kesimpulannya, ada kemampuan yang sudah Tuhan tanamkan kepada kita (kesadaran diri, hati nurani, kehendak bebas, dan imajinasi kreatif), dan kita punya kuasa untuk memilih untuk mengubah hidup kita. Kalau kita tidak percaya akan diri kita yang sudah lahir baru, maka kita sudah “kalah” 2 kali dalam pertandingan kehidupan ini. Jika kita sudah tahu keyakinan kita berakar pada karya Allah, ingatlah untuk menjaga perilaku dan hati kita.

Pada saat kita sudah bijak mengasihi diri, itu bukan untuk berbuat dosa, melainkan melalui diri yang diubahkan dan tubuh yang kita rawat, Allah mau hidup kita berdampak pada sesama, menjadi saluran berkat memuliakan Allah Trinitas, dengan cara memberitakan Karya yang telah memanggil kita keluar kepada terang-Nya yang ajaib.

*JA

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah)

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top