Delapan belas bulan menjadi waktu yang luar biasa bagi Paulus untuk berada di tengah-tengah kehidupan jemaat yang ada di Korintus. Nilai-nilai Injil terus disuarakan dengan harapan jemaat bertumbuh dalam pengenalan akan firmanNya, tidak menjadi Kristen anak-anak, tetapi Kristen yang dewasa. Namun, semuanya berbeda dari harapan, perbedaan dan perselisihanpun justru dipertontonkan. “Karena jika yang seorang berkata: "Aku dari golongan Paulus," dan yang lain berkata: "Aku dari golongan Apolos” (1 Korintus 3:4). Sungguh ironi!
Keluarga Kloe, menceritakan kepada Paulus persoalan-persoalan yang membuat jemaat Korintus tidak hidup secara dewasa dalam Tuhan. Masing-masing membuat gap-gap yang membawa kepada kepuasan diri. Paulus dan Apolos menjadi pusat tujuan mereka, padahal mereka sama-sama hidup melayani Tuhan, mengajar dan memperkenalkan Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Hidup jemaat tertuju kepada pemimpinnya dan bukan tertuju kepada kebenaran. Hidup harus tertuju kepada Tuhan dan bukan kepada manusia. Paulus menegur dengan keras, hidupmu adalah hidup secara duniawi dan bukan secara rohani. Paulus dan Apolos sama-sama manusia biasa yang melayani Tuhan
Alkitab menuliskan dalam pengakuan Paulus bahwa: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan”(1 Korintus 3:6). Dengan jelas Paulus menyampaikan, bahwa dirinya hanyalah orang yang sedang mengerjakan apa yang diperintahkan oleh majikannya (Yesus Kristus) kepadanya, tidak lebih dari itu. Demikian juga dengan Apolos, bertanggungjawab menyuarakan kebenaran Injil. Yang lebih penting disini adalah, yang memberi pertumbuhan dalam pengenalan akan Tuhan dan bukan yang menanam atau yang menyiramnya. Artinya, jemaat harus mengarahkan hidupnya kepada Sang pemberi Pertumbuhan (Tuhan) dan bukan kepada yang manusia yang hanya mengerjakan apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Bagaimana dengan gereja masa kini?
Seiring berjalannya waktu dari generasi ke generasi, gereja terus mengalami perubahan, walaupun tidak semua seperti yang diharapkan. Idealnya, gereja harus bertumbuh dewasa, baik dalam pengajaran maupun dalam spiritualitasnya. Maka, betapa pentingnya orang percaya mengalami perubahan dalam dirinya, mengerti dan bertumbuh dalam nilai-nilai rohani, dan tidak menjadi pemain sandiwara. Hidup di dunia, tetapi tidak duniawi. Kita boleh berbeda, tetapi tetap satu dalam kehendakNya. Jangan ada iri hati dan perselisihan, tetapi bangunlah persaudaraan yang benar. Gereja bersama -sama percaya kepada Tuhan, maka, bertumbuhlah dalam iman yang benar, karena kedewasaan rohanilah yang menyatukan kita dalam perbedaan.
Dengan demikian, penting bagi kita untuk melayani Tuhan, maka bangunlah kesatuan hati. Bekerja, berubah dan bertumbuh bersama, akan menjadi kekuatan yang besar, yang akan menghantar gereja pada tujuan yang mulia. Ingat, kita kawan sekerja Allah yang melayani, mengerjakan apa yang diperintahkanNya, tidak ada kebanggan bagi kita di sana, yang ada adalah perjuangan memberi diri untuk tunduk dan taat kepada ketetapan Tuhan dan bukan manusia. Tuhan memberkati