Sapaan Gembala

Memahami Allah Yang Kasih Dan Adil

Penulis : Pdt Netsen | Tue, 9 September 2025 - 10:43 | Dilihat : 623

Beberapa waktu lalu seorang sahabat menyampaikan ungkapan hatinya yang paling dalam ketika telah mengalami peristiwa yang sangat membuat dia begitu sedih dimana kedua anaknya dipanggil oleh Tuhan dalam jangka waktu yang cukup dekat. Ia merasa bahwa apa yang dialaminya adalah suatu pergumulan yang sangat berat, dia tidak hanya kehilangan kedua anaknya, tetapi juga sudah habis-habisan dalam pengobanannya ketika mengobati anaknya. Ia bertanya apakah ia dihukum oleh Allah? Apakah Allah murka pada nya? Apakah itu layak bagi dia? Dalam jeritan hatinya nya ia mempertanyakan Allah yang penuh cinta kasih, penyanyang sebagaimana yang diajarkan Alkitab dan yang ia dengar.

Mudah untuk mengajar, menghibur tetapi tidak mudah ketika masuk dalam realita peristiwa yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan walaupun ada contoh yang Alkitab sudah berikan. Bagaimana memahami Allah yang kasih ditengah kehidupan yang mengalami penderitaan, kesulitan dan lain-lainnya? Atau kita dengan mudah mengatakan bahwa Allah menghukum dia? Dapatkan kita berkata, Allah digambarkan sebagai sosok pribadi yang kejam dan langsung meluapkan murkanya kepada umat-Nya, tidak berbelaskasih kepada mereka yang mengalami penderitan dan pergumulan yang berat?

Seiring dengan perkembangan teologi, umat Kristen masa kini sering menghadapi pertanyaan mengenai apakah Allah adalah sosok yang penuh belas kasih, atau justru sebagai sosok yang mudah marah dan menghukum ketika manusia jatuh dalam dosa. Pandangan yang menganggap Allah sebagai pribadi yang “kejam” ini didasarkan pada pemahaman serta penjelasan yang tidak utuh mengenai bagaimana Allah yang kasih, penyayang, yang suci, yang adil dan yang murka.

Ketidakpahaman dan ketidakjelasan akan murka Allah yang dialami oleh orang-orang Kristen tertentu bisa merupakan dampak dari pengajaran atau khotbah yang disampaikan oleh gereja yang hanya memilih untuk mengedepankan tema kasih Allah, kekuatan-Nya, serta rencana-Nya bagi kehidupan manusia. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa tema-tema seperti kasih dan kuasa Allah lebih relevan bagi kehidupan sehari-hari jemaat dan lebih menarik minat pendengar dibandingkan tema murka Allah yang kerap dipandang kontroversial atau kurang populer. Tentu tidak sepenuhnya salah, tetapi seharusnya tema tentang murka Allah juga harus diberitakan dan disampaikan kepada umat Kristen. Selain itu ketidakpahaman akan pengajaran murka Allah juga bisa karena kesalahan umat itu sendiri yang tidak mau sungguh-sungguh belajar (membaca dan merenungkan) firman Tuhan sehingga gagal memahami Allah, baik itu sifat dan karakter-Nya. Selain itu kita perlu menyadari bahwa kita adalah manusia ciptaan yang terbatas untuk memahami Allah sebagai Pencipta. Akan tetapi kita perlu memahami dengan benar akan kasih dan murka Allah.

Kisah kelatuhan manusia ke dalam dosa, (Kej. 3) menje bagaimana manusia ciptaan-Nya (Hawa) terpikat oleh rayuan ular dan akhirnya menyebabkan dirinya jatuh ke dalam dosa. Tindakan Hawa yang tidak mendengarkan perintah Allah membuat manusia pada saat itu mulai terpisah dari kekudusan-Nya Allah. Dampak dari pelanggaran yang telah dilakukan oleh manusia menjadikan manusia sebagai satu pribadi yang rapuh, rentan, dan lemah serta tidak memiliki tenaga dan kekuatan dan membuat manusia semakin menjauh dari Allah. Seperti yang tertuang dalam Alkitab (Roma 7:7-13; Galatia 3:10,12), dosa memiliki hubungan yang erat dengan ingkar terhadap perkataan Allah dan bertentangan dengan karakter serta sifatnya Allah.

Sifat kasih Allah dan murka sebagai reaksi terhadap dosa, konsep ini mengingatkan pada kita bahwa kasih dan keadilan Allah yang beriringan. Dalam konteks ini, murka Allah dipandang sebagai aspek keadilan yang muncul dari pelanggaran terhadap perjanjian dan kekudusan-Nya. Murka Allah adalah bahaya yang signifikan bagi orang berdosa, namun pembenaran melalui pengorbanan Kristus, membebaskan orang percaya dari murka Allah. Orang percaya memperoleh kedamaian dengan Allah dan jaminan keselamatan. Perlu dipahami bahwa murka Allah, menurut Paulus, merupakan wujud kasih dan keadilan-Nya, sekaligus panggilan bagi umat untuk kembali kepada-Nya.

Murka Allah sebagai keadilan dan kekudusan-Nya. Dalam pandangan rasul Paulus, murka Allah adalah sebagai sebuah bentuk keadilan dan memperlihatkan kekudusan Allah. Dalam tulisan Paulus berikutnya, murka Allah hadir sebagai konsekuensi atas perbuatan manusia yang mengeraskan hati dan tidak mau bertobat (Rm. 2 : 5-6). Murka Allah merupakan bentuk manifestasi dari sifat keadilan dan kekudusan Allah yang sempurna. Murka Allah muncul sebagai respons terhadap kefasikan dan kelaliman manusia yang dengan sengaja menolak dan menindas kebenaran yang telah dinyatakan. Murka Allah bukanlah kemarahan yang bersifat emosional atau kejam, melainkan merupakan tindakan ilahi yang adil dan kudus, yang bertujuan untuk menegakkan keadilan serta menjaga kekudusan hubungan antara Allah dan manusia.

Lebih lanjut, murka Allah juga berfungsi sebagai panggilan bagi manusia untuk bertobat dan berbalik kepada-Nya. Dalam surat Roma, Rasul Paulus menekankan bahwa walaupun murka Allah nyata dan tak terelakkan bagi mereka yang hidup dalam dosa, Allah tetap memberikan kesempatan bagi manusia untuk bertobat sebagai bentuk kasih-Nya. Dengan demikian, kasih dan murka Allah bukanlah konsep yang bertentangan, melainkan aspek yang saling melengkapi dalam karakter Allah. Murka Allah yang digambarkan oleh Paulus memperlihatkan kesempurnaan sifat Allah yang tidak hanya penuh kasih, tetapi juga adil dan benar dalam menghadapi dosa manusia. Oleh karena itu, pemahaman tentang murka Allah menjadi penting untuk ditekankan dalam pengajaran Kristen saat ini, sebagai bagian dari keseluruhan pemahaman tentang kasih dan keadilan Allah. Amin.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top