Ringkasan Khotbah

Hidup Dalam Kristus: Kasih Dalam Komunitas

Penulis : JA | Tue, 30 September 2025 - 13:40 | Dilihat : 844

Ringkasan Khotbah, Minggu, 21 September 2025

Hidup dalam Kristus: Kasih dalam Komunitas – Pdt. Hans Wuysang (1 Korintus 13:1-13)

Kasih merupakan sesuatu yang sentral dalam kehidupan orang percaya, dan ada banyak ayat di Alkitab yang fokus berbicara tentang kasih, seperti Yohanes 3:16 dan 1 Korintus 13:4 Kasih Allah pula yang menjadi dasar kehidupan kita. Di manapun Tuhan menempatkan kita, kasih Allah harus terwujud di sana.

1 Korintus 13 adalah salah satu pasal terpenting di dalam Alkitab yang mengajarkan mengenai kasih yang sejati, dan surat Korintus dituliskan Rasul Paulus dalam perjalanan penginjilannya ke Benua Eropa, dan surat ini sangat kental dalam nasehat, pengajaran, kritik, dan teguran kepada jemaat Korintus, dan semua itu dilandasi oleh kasih Paulus kepada mereka.

Pada pasal sebelumnya (1 Korintus 12), Paulus berbicara tentang tubuh Kristus yang memiliki banyak anggota dan karunia yang berbeda-beda, namun jemaat Korintus ini juga terpecah-pecah dan “sombong rohani”, karena seseorang menganggap karunianya lebih penting daripada orang lain. Maka, dalam surat 1 Korintus 13:1-3, Paulus menegur jemaat tersebut.

Pertama, menurut 1 Korintus 13:1-3, kasih dimulai dari motivasi. Dalam aspek Etika Kristen, ada motivasi yang menjadi dasar mengasihi, cara untuk mewujudkan kasih tersebut, dan tujuan untuk mengasihi. Dasar atau motivasi tindakan-tindakan yang dituliskan di bagian 1 Korintus 13:1-3 memang tidak jelas, namun Paulus secara jelas menyatakan, tanpa kasih, semua tindakan tersebut itu tidak bernilai. Apakah selama ini kita memiliki motivasi yang jelas dalam melayani di gereja kita?

Menurut ajaran Alkitab, kita melakukan perbuatan baik tanpa kasih karena kita belum mengalami, menghayati, dan menerima kasih Allah. Hanya orang yang sudah menerima kasih Allah, mengalami perubahan dari keadaan yang tidak layak diselamatkan Allah, mengalami hidup yang diubahkan, pengampunan, dan pertolongan Allah-lah yang mampu mengasihi kembali Allah dan sesamanya. Inilah motivasi paling dasar orang Kristen dalam mengasihi.

Wahyu 2:4 menuliskan bagaimana melalui Allah mencela jemaat Efesus yang telah kehilangan kasih yang mula-mula, kasih yang seharusnya menjadi landasan motivasi semua pelayanan mereka. Kasih inilah yang pertama kali muncul dalam hidup kita karena kita menyadari akan kasih Allah. Inilah motivasi yang seharusnya tidak boleh hilang dalam hidup kita guna membalas cinta kasih Allah, karena tidak ada sesuatupun yang layak dalam hidup kita untuk dikasihi-Nya, tetapi Allah tetap mengasihi kita dan Dia mengirimkan Tuhan Yesus untuk melepaskan kita dari dosa.

Kedua, 1 Korintus 13:4-7 berbicara mengenai cara mengasihi yang benar dengan motivasi yang sudah dibangun dan dipulihkan, yaitu melalui karakter diri kita dalam hidup ini. Ada suatu frasa yang menyebutkan, “true love sees the best of others”, yang berarti bahwa kasih yang sejati, sungguh-sungguh dan berasal dari Allah sendiri, yang sudah memberikan yang terbaik, yaitu anak-Nya Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia berdosa, selalu melihat yang “terbaik” dari orang-orang yang sebenarnya tidak patut dikasihi, yaitu kita semua. Roh Kudus hadir di tengah-tengah hidup kita yang tidak layak, hanya karena Dia mau hadir untuk menguduskan hidup kita.

Bagaimana cara kita mewujudkan kasih? Dengan hidup berpusat kepada Tuhan, dan kepada orang-orang yang Tuhan ingin kita kasihi, berdayakan, dan angkat derajatnya. Kita juga harus selalu menimbang setiap pelayanan dan pekerjaan kita untuk kepentingan orang lain dan kemuliaan Tuhan. Mengubah hidup orang lain adalah pekerjaan Roh Kudus, karenanya kita harus belajar untuk setia dalam pelayanan kita.

Pada intinya, cara untuk mewujudkan kasih itu adalah dengan menutupi hal-hal yang tidak baik dalam orang lain, guna untuk membina dan membangkitkan mereka melalui Roh Kudus. Kita tidak dipanggil untuk mengubah orang lain, melainkan menyatakan Kristus yang sedang mengubah hidup kita, supaya orang lain bisa melihat dan Roh Kudus bekerja dalam diri mereka. Karenanya, cara mengasihi yang kita pakai juga harus bijaksana.

Kita juga harus memiliki pengharapan dalam Kristus bahwa manusia yang Tuhan kasihi pun bisa berubah dan tumbuh, menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan, bukan apa yang kita inginkan. Kasih yang kita wujudkan ini bertujuan untuk menyenangkan hati Tuhan, menjadikan orang-orang yang kita layani bertemu secara pribadi dengan Kristus dan mengalami Kasih-Nya, sehingga pada akhirnya mereka mampu menjadi serupa dengan Kristus.

Ketiga, 1 Korintus 13:8-13 dapat disimpulkan sebagai tujuan kita dalam melayani Tuhan dan menyatakan kasih-nya kepada sesama, yaitu supaya Kristus terwujud dalam hidup pelayanan kita dan dalam hidup orang-orang yang kita layani. Kasih menjadi lebih besar dari iman dan pengharapan karena kasihlah yang tetap hadir dalam hidup kita, karena pengetahuan yang kita miliki tidak lengkap/tidak sempurna. Kita yang sedang berproses dalam mengasihi tidaklah sempurna, walaupun pengetahuan untuk mengasihi dari Firman-nya sudah sempurna.

Pada akhirnya, ketika tubuh kita sudah tidak berdaya lagi, hanya kasihlah yang akan tetap dalam diri kita. Kasih dalam keadaan seperti itu bisa diwujudkan dalam mendoakan pelayanan orang lain. Ketika Tuhan Yesus datang kedua kali nanti, barulah kita akan mengerti dengan sempurna semua kegagalan diri kita dalam mengasihi. Bertahanlah dalam mengasihi, karena Tuhan telah terlebih dahulu bertahan dalam mengasihi kita, bahkan sampai dalam kesudahan hidup kita.

*JA

Ringkasan khotbah ini belum di periksa oleh Pengkhotbah

Lihat juga

Komentar


Group

Top