Ringkasan Khotbah

Hidup Dalam Kristus: Kasih Yang Beraksi Di Dunia

Penulis : JA | Thu, 2 October 2025 - 09:35 | Dilihat : 478

Ringkasan Khotbah, Minggu 28 September 2025

Hidup dalam Kristus: Kasih yang Beraksi di Dunia – Pdt. Pieters Pin (1 Yoh 3:16-18)

Dalam diri kita, mungkin saja akan timbul pertanyaan: “Apakah bukti nyata bahwa kita sudah benar-benar menerima kasih Kristus?” Kita bisa saja mengatakan, “saya sudah menerima-Nya", dan itu menjadi kesaksian yang dinyatakan Roh Kudus bagi diri kita secara pribadi. Tetapi, kita juga bisa memikirkan, bukti apakah yang orang lain bisa lihat dari diri kita, bahwa kita sudah menerima kasih Kristus, sehingga mereka bisa menemukan bahwa kita memang menikmati dan menerima-Nya? Lalu, mungkin kita juga bisa menanyakan diri kita sendiri, “Seberapa terang kehidupan kita pada saat ini?” “Apakah kita memiliki pengaruh yang positif/baik/indah?” Selanjutnya, kita bisa saja bertanya, “Jika Tuhan Yesus datang hari ini, dimanakah Dia akan melihat bukti kasih kita?” Saat 3 pertanyaan ini muncul dalam diri kita, kita akan mulai memikirkan, bagaimana mengekspresikan kasih sebagai ungkapan syukur karena kita sudah menerima Kristus, dan bagaimana agar kasih itu bisa dinikmati oleh orang lain.

Adapun seluruh pertanyaan/pergumulan di atas memiliki ketentuan yang jelas, yaitu hidup yang berakar kuat dalam kasih Kristus selalu diwujudkan dalam tindakan nyata (1 Yohanes 3:16-18). Pada ayat-ayat tersebut, ada 2 kebenaran yang perlu kita renungkan, yaitu:

  1. Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita (1 Yohanes 3:16). Hal ini menjadi pemicu bagi kita untuk mengasihi orang lain, dan
  2. Menyatakan “buah Allah” dalam hidup kita (1 Yohanes 3:18), sebagai ekspresi rasa syukur kita yang sudah diselamatkan-Nya.

Poin pertama: bagi orang Kristen, Alkitab memiliki narasi yang mencakup 4 kuadran, yaitu penciptaan, kejatuhan, penebusan, dan penyempurnaan, tetapi menurut orang non-Kristen, seluruh kehidupan manusia seluruhnya terjadi pada 1 kuadran saja, yaitu kejatuhan (kegelapan dosa). Celakanya, banyak manusia hidup di dalam kegelapan dosa, dan mereka tidak mengetahui akan hal itu, yang mengakibatkan mereka sulit untuk mengucap syukur, sekalipun mungkin sudah hidup baru. Ada banyak sekali ayat di Alkitab yang menyatakan kondisi manusia yang begitu mengerikan, karena mereka tidak sadar akan hidupnya yang berdosa. Konsekuensinya, manusia tidak tahu mengapa harus mengucap syukur, apa yang harus disyukuri, maupun dari apakah mereka diselamatkan, sehingga dorongan untuk mengasihi sesama menjadi kecil dan minim. Sebaliknya, ketika kita sadar akan kejatuhan kita yang mengerikan, dan Tuhan yang sudah menyelamatkan kita, maka hati kita akan diliputi rasa syukur dan dorongan untuk menyatakan kasih kepada orang lain.

Saat kita dalam kejatuhan yang kita tidak sadari itu, Tuhan berinkarnasi menjadi Kristus yang mati, bangkit, dan memberikan pengertian akan hidup manusia yang semestinya. Selama kita percaya bahwa Kristus mati menggantikan kita dalam hukuman kekal dan bangkit pada hari yang ke-3, maka kita akan berpindah dari dalam kuadran kejatuhan ke dalam kuadran penebusan (menjadi milik Tuhan). Perpindahan ini bukan karena kontribusi kita, namun semata-mata karena karya pengorbanan Kristus. Sesudah kita ditebus, kita tidak boleh lupa akan kondisi kita yang lama, sekalipun kita sudah menjadi anak-anak Allah. Setelahnya, kita perlu mengingat bahwa kita punya “identitas baru” dalam Tuhan, sehingga kita melakukan tindakan kasih. Kesimpulannya, kasih Allah dan pengorbanan Kristus adalah “paket” yang begitu luar biasa, yang diberikan secara cuma-cuma bagi kita, manusia yang tidak layak dan seharusnya binasa, semata-mata karena anugerah Allah. Mengetahui hal ini, hati kita pasti diliputi rasa syukur dan terima kasih, dan perasaan ini akan terwujud dalam tindakan kasih yang menakjubkan, yang tidak mungkin bisa kita lakukan dalam kuadran kejatuhan, dan juga dapat dilihat oleh orang lain.

Poin kedua: ketika kita menyadari di mana posisi kita dan “paket” yang kita miliki, dalam keadaan seburuk apapun, “paket” itu menjadi rahasia sukacita yang tidak bisa diambil dari diri kita, bahkan sukacita itu bisa saja memampukan kita untuk lebih peduli akan orang lain. Bagaimana kita mengetahui apakah kita sudah mendapatkan “paket” itu atau belum? Efesus 4:14 menyatakan bahwa sewaktu kita menerima Kristus, Roh Kudus diberikan-Nya menjadi jaminan kita. Kelak, kita akan memiliki Roh Kudus sepenuhnya, dan Dia juga akan menyempurnakan diri kita, sehingga hati kita diliputi rasa syukur dan terima kasih.

Dengan memahami perbedaan diri kita pada saat sebelum dan sesudah diselamatkan Kristus, memahami “paket” yang Dia berikan, dan Roh Kudus yang menjadi jaminan kita, maka hati kita akan dipenuhi keyakinan dan kepastian bahwa Tuhan menyertai kita. Inilah yang menjadi modal bagi kita untuk menyatakan kasih Kristus kepada orang lain.

Kalau kita melakukan perbuatan baik namun belum di dalam Kristus, kita seperti menghasilkan “buah Allah” yang semu, yang tidak ada bedanya dengan orang non-Kristen. Yohanes 15:5 menyatakan bahwa tanpa Kristus, perbuatan baik kita tidak mampu menyelamatkan diri kita, dan juga tidak bisa dicatat di dalam surga. Saat kita terpisah dari Kristus, kita tidak mampu melakukan apa yang diperkenankan-Nya. Sewaktu kita berada di dalam kuadran penebusan, kita harus ingat untuk memberitakan Injil bagi teman-teman kita yang masih di dalam kuadran kejatuhan, sehingga mereka tahu ada pengharapan di dalam Kekristenan, dan Allah Bapa dimuliakan.

Pada akhirnya, “Paket” yang diberikan Allah kepada kita juga memampukan kita untuk mengenal konsep manusia yang benar menurut Alkitab, supaya kita bisa memperlakukan orang lain dengan dignitas (kehormatan) tertinggi.

*JA

Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah

Lihat juga

Komentar


Group

Top