Ringkasan Khotbah

Menantikan Kristus

Penulis : JA | Tue, 14 October 2025 - 10:06 | Dilihat : 375

Ringkasan Khotbah, Minggu, 05 Oktober 2025

Menantikan Kristus (Pdt. Gelen Marpaung, 1 Korintus 11:23-26)

Iman Kristiani adalah iman yang sifatnya mencakup dari awal hingga akhir sejarah, seperti Alkitab yang menuliskan penciptaan dan akhir dunia ini, dengan karya Keselamatan Allah di tengah-tengahnya, yang menghubungkan seluruh bagian Alkitab. Karenanya, Tuhan Yesus meminta kita orang Kristen (melalui surat Paulus ke jemaat Korintus) untuk selalu melakukan Perjamuan Kudus tidak hanya dengan melihat ke belakang (kematian Kristus melalui salib yang menebus dosa manusia), namun juga melihat ke depan (kedatangan-Nya yang kedua kali). Inilah yang menjadi “jantung” iman kita, bahwa Kristus telah mati, bangkit mengalahkan maut, dan Dia akan datang kembali dengan kemuliaan yang sempurna, karena kedatangan-Nya yang pertama terjadi dalam rupa manusia, lain halnya dengan kepenuhan dan kemuliaan Allah yang akan menyertai-Nya di kedatangan yang kedua.

Bagaimana kita menantikan Kristus di dalam Perjamuan Kudus? Pertama, Perjamuan Kudus itu sendiri merupakan suatu tanda dan materai. Jean Cauvin (John Calvin) dalam bukunya Institutio mengatakan, “Dalam Perjamuan Kudus, kita tidak hanya diingatkan akan kematian Kristus, tetapi juga diberi jaminan bahwa hidup kita tersembunyi (terlindungi) bersama Dia sampai Dia menyatakan diri-Nya dalam kemuliaan.” Melalui Perjamuan Kudus, kita mengerti bahwa kematian Kristus bukanlah tragedi, tetapi itu adalah penebusan yang “menyelubungkan” kita di hadapan Bapa dengan “jubah penebusan” dari Kristus.

Kedua, Perjamuan Kudus itu terkait dengan Eskatologi (doktrin akhir zaman) Kristen. Dalam buku Systematic Theology, Louis Berkhof menuliskan bahwa pengharapan kedatangan Kristus (yang kedua kalinya) adalah “puncak sejarah keselamatan”, di mana seluruh ciptaan akan dipulihkan. Jadi, ketika kita percaya pada Kristus, kita mengalami pemulihan yang belum “sepenuhnya”, yang kelak akan disempurnakan saat Dia datang kembali nanti. Pemulihan ini tidak hanya terjadi kepada manusia saja, melainkan kepada dunia dan seluruh isinya (“langit dan bumi yang baru”, consummation), dan Tuhan akan dimuliakan sepenuhnya. Herman Bavinck juga menegaskan: “the best is yet to come” (terjemahan: yang terbaik itu belum sepenuhnya datang), yang artinya adalah Kristus yang telah menang di kayu salib itu akan menggenapi kepenuhan kemenangan-Nya ketika Dia datang kembali.

Ketiga, Perjamuan Kudus adalah momentum antara “sudah” dan “belum”. Maksudnya adalah, kita merayakan kemenangan Kristus karena kita sudah diselamatkan, tetapi keselamatan itu belum digenapi secara penuh, sebab kita masih tinggal di dunia yang penuh dengan dosa. Kita juga masih tinggal di dalam tubuh yang fana, tubuh yang cenderung melakukan dosa, di mana kita senantiasa “berperang” dengan keinginan mata, keinginan “daging”, keangkuhan hidup, dan aneka filsafat duniawi. Tetapi, Tuhan memberikan kita kemampuan untuk melawan dosa-dosa tersebut, dan Dia mau kita memilih untuk menaklukkan hati, pikiran, dan nurani kita di bawah terang Kristus. Perjamuan Kudus mengingatkan kita akan karya penebusan Kristus, dan kelak dalam kekekalan akan ada perjamuan puncak yang penuh kesukacitaan (Wahyu 19:9). Ini merupakan cara kita orang percaya untuk mempersiapkan diri dalam menyambut kedatangan Kristus yang kedua kalinya.

Kita bisa menantikan kedatangan Kristus dengan beberapa cara. Pertama, hidup dalam pengharapan, yang memampukan kita bertahan dalam persekusi dan penganiayaan, karena Dia sendiri yang mengatakan bahwa Dia akan datang kembali. Titus 2:13 menyebut pengharapan ini “penuh kebahagiaan”, dan Yohanes 14:3 menuliskan bahwa Yesus berjanji untuk kembali dan menjemput kita. Penantian Kristus bukan tanpa arah, melainkan suatu janji yang pasti.

Kedua, hidup dalam kekudusan (1 Yohanes 3:2-3). Menantikan Kristus berarti hidup dalam pertobatan, tidak kompromi dengan dosa, dan menjaga hati. Kesucian hiduplah yang akan dikenakan kita, “mempelai wanita” Kristus, pada saat bertemu dengan-Nya nanti, yang tentunya tidak mudah untuk dilakukan.

Ketiga, hidup dalam kesiapan, yaitu terus menerus konsisten dalam pertobatan (2 Petrus 3:11-12). Dalam hal ini, menanti bukan bersifat pasif, namun bersifat aktif, yaitu tetap menjalani kehidupan dengan penuh kewaspadaan, menjaga kekudusan, dan senantiasa setia.

Adapun penerapan yang bisa kita lakukan adalah:

  1. Introspeksi diri (1 Korintus 11:28).

  1. Hidup dalam rasa syukur (Roma 5:8), maka setiap hari dalam hidup kita harus dijalani dengan bersyukur, bukan bersungut-sungut.

  1. Hidup dalam kasih dan pelayanan (Matius 25:31-40), menantikan Kristus dengan cara melayani sesama kita, seperti keluarga, gereja, dan masyarakat.

  1. Menjadi saksi Kristus (Matius 5:13-16), memperlihatkan karakter Kristus dalam perkataan, tindakan, dan relasi kita.

  1. Hidup dalam sukacita dan pengharapan (Filipi 4:4). Orang yang menantikan Kristus tidak akan dikuasai oleh ketakutan, namun dipenuhi pengharapan yang membawa sukacita.

Pada akhirnya, Perjamuan Kudus membawa kita melihat ke belakang (pengorbanan Kristus), ke dalam (kehidupan kita saat ini), dan ke depan (menyongsong kedatangan Kristus yang kedua kalinya dengan penuh harapan). Siapkah kita menyambut kedatangan-Nya?

*JA

Ringkasan Khotbah ini sudah diperiksa oleh Pengkhotbah

Lihat juga

Komentar


Group

Top