Ringkasan Khotbah, Minggu, 12 Oktober 2025
Awas Guru KW (Pdt. Gelen Marpaung, 2 Petrus 2:1-22)
Kepalsuan yang paling berbahaya adalah kepalsuan yang mirip dengan versi aslinya, begitu pula halnya dengan penyesatan di dalam gereja. Penyesatan yang paling berbahaya adalah penyesatan yang banyak menggunakan kebenaran di dalamnya, namun disusupkan dengan ajaran-ajaran sesat.
Adapun 3 pokok pembahasan dalam khotbah kali ini adalah: Awas! (infiltrasi ajaran sesat, 2 Petrus 2:1-3), Waspada! (Tuhan tidak akan membiarkan dosa, 2 Petrus 2:4-10a), dan Siaga! (Iman sejati diwujudkan dalam hidup yang murni, 2 Petrus 2:17-22). Pada 2 Petrus 2:1-3, Rasul Petrus menegaskan bahwa sebagaimana adanya nabi palsu di zaman Perjanjian Lama, terdapat pula rasul (guru) palsu di zaman Perjanjian Baru. Kemudian, yang menjadi karakteristik guru-guru palsu ini adalah:
Seluruh tindakan ini adalah “buah” dari dosa asal manusia (total depravity). Tanpa keberadaan Roh Kudus, hati manusia akan memutarbalikkan Firman Tuhan untuk menuruti keinginan dirinya.
Kita bisa meng“Awas”i ajaran-ajaran sesat ini dengan mewaspadai ajaran yang: menonjolkan kenyamanan di atas pertobatan (mimbar tidak pernah mengajak umat Kristen untuk bertobat), memberitakan tentang berkat Tuhan tanpa penyaliban Kristus (mengutip sebagian ayat-ayat tertentu saja), dan menyatakan bahwa semua ajaran itu sama benarnya (demi keharmonisan palsu/utopia). Karenanya, gereja harus berpegang pada prinsip Sola Scriptura (hanya Firman Tuhanlah yang berotoritas), dan kita harus senantiasa menguji setiap khotbah, seminar, dan video yang kita dengar dengan Alkitab, bukan sekadar berdasarkan “menyentuh perasaan dan merangsang pikiran”. Kebenaran sejati itu tidak selalu “enak” untuk didengar, namun selalu menyelamatkan.
Bagaimana kita me”Waspada”i ajaran sesat? Petrus mengingatkan dalam 2 Petrus 2:4-10 mengenai 3 contoh penghakiman Allah, yaitu: malaikat yang berdosa dilempar ke neraka, air bah yang menenggelamkan seluruh bumi (kecuali Nuh dan keluarganya), dan pembinasaan Sodom dan Gomora (namun Lot diselamatkan). Makna dari penghakiman-penghakiman itu begitu jelas, bahwa Allah yang kudus pasti akan menghukum dosa manusia, tetapi Dia juga setia memelihara orang yang benar di tengah kerusakan moral pada lingkungan mereka. Tindakan Allah menunjukkan kasih, keadilan, dan kedaulatan-Nya. Selanjutnya, Allah juga tidak pernah berubah, karena kasih dan keadilan-Nya selalu berjalan bersamaan. Karena itu, kita tidak boleh mengabaikan peringatan dari Tuhan, dan kesabaran-Nya terhadap kita merupakan tanda bagi kita untuk bertobat. Sayangnya, dunia masa kini tidak suka dengan kata “penghakiman”, namun gereja harus tetap menyatakannya dengan kasih. Kasih yang sejati tidak pernah menipu dengan kata-kata yang manis, namun ia menegur demi keselamatan kita. Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk takut akan Tuhan, bukan takut akan kehilangan kenyamanan hidup.
Demi ber”Siaga” menghadapi ajaran sesat, kita harus ingat bahwa guru palsu bisa saja terlihat berkuasa, berwibawa, bahkan berbicara mengenai Kristus, namun hidup mereka tidaklah mencerminkan-Nya. Mereka menjanjikan kebebasan hidup, padahal mereka sendiri hidup terikat dengan dosa, dan pengenalan mereka akan kebenaran Tuhan hanya melekat di kepala saja (kognitif), bukan di hati. Iman yang sejati bukanlah sekadar pengakuan dari mulut saja, tetapi itu merupakan buah dari hidup baru. Iman yang sejati juga terlihat dalam kesetiaan, integritas, dan kekudusan hidup kita, bukan dari penampilan (ornamen) atau kata-kata yang bersifat rohani.
Dalam 1 Yohanes 2:19 disebutkan, mereka yang “kembali ke kubangan dosa” membuktikan bagaimana mereka sesungguhnya belum benar-benar hidup baru. Pada saat ini, dunia dipenuhi dengan “influencer rohani” (pengguna media sosial yang memiliki banyak “pengikut/followers”), dan kita sebagai orang Kristen harus melihat buah hidup mereka, bukan seberapa populer atau seberapa banyak orang yang mengikuti ajaran mereka. Selain itu, kita jangan cepat puas dengan pengetahuan rohani, biarkanlah Firman Tuhan juga mengubah karakter diri kita. Lebih baik kita setia dalam perkara kecil, daripada kita “terkenal” dalam kesesatan yang besar.
Pada akhirnya, kesimpulan yang bisa ditarik adalah, gereja bisa rusak bukan karena tekanan dari dunia saja, tetapi juga karena ajaran sesat yang dibiarkan tumbuh di dalamnya. Maka, panggilan kita sebagai orang Kristen sudah jelas, yaitu tetap berpegang pada Firman Tuhan (Sola Scriptura), tetap hidup dalam anugerah Allah (Sola Gratia), dan tetap meninggikan Kristus sebagai satu-satunya jalan kebenaran (Solus Christus).
*JA
Ringkasan khotbah ini sudah diperiksa oleh Pengkhotbah.