Yesaya 33:22 membeberkan suatu fakta bahwa Tuhan adalah Hakim, yang dalam kekekalan-Nya merupakan salah satu dari karakteristik Allah selain sebagai Bapa dan pencipta. Dalam hakekatnya sebagai Hakim, Allah tentunya berhak untuk menentukan hukum bagi dunia ciptaan-Nya, dan hukum ini tertulis dalam Sepuluh Hukum yang kita, sebagai manusia yang berdosa, tidak akan mungkin menaati keseluruhannya. Selain di atas dua loh batu, Allah juga menuliskan hukum-hukum tersebut di dalam hati manusia (Roma 2:15), sehingga ada suatu kesadaran dalam diri manusia untuk tidak boleh membunuh, menipu, berzinah dan lainnya, yang menimbulkan rasa bersalah atau pergolakan dalam hati manusia.
Sebagai Hakim yang kekal, Tuhan adalah sumber keadilan yang tertinggi, karena Dia adalah standar keadilan itu sendiri, dan Dia adalah Tuhan yang Maha Kudus, dan sudah sewajarnya membenci akan pelanggaran dan dosa yang kontras dengan kekudusan-Nya. Melalui hal ini, kita bisa memahami bahwa Tuhan Sang Pencipta dunia ini tidak rela melihat ada kesalahan, dosa, atau kekeliruan di dalam dunia ciptaan-Nya. Selain itu, keadilan Allah juga menuntut sanksi/hukuman, seperti yang disebutkan dalam Roma 1:32a (“dihukum mati”). Keluaran 34:7a juga menuliskan bahwa Allah tidak akan membebaskan orang yang bersalah dari hukuman-Nya, meskipun memang Allah tetap mengampuni mereka.
Matius 22:37-39 secara jelas menyimpulkan Sepuluh Hukum Taurat yang ada di Perjanjian Lama, akan tetapi masih banyak manusia yang gagal dalam menaati Hukum Allah dalam hidup mereka. Di dalam Alkitab, ada 3 prinsip peraturan Allah yang dituliskan, yaitu:
Saat kita berusaha memahami Kehendak Allah, ada 2 prinsip yang harus diingat, yaitu Kehendak Allah yang pasti terlaksana, dan Kehendak Allah yang kadang dilanggar manusia berdosa (contoh: manusia yang melanggar Sepuluh Hukum Taurat). Roma 3:25 mengingatkan kita bahwa tidak ada satupun manusia yang benar di mata Tuhan, namun Hukum dan Keadilan Allah harus tetap dilaksanakan. Bagaimana Allah menerapkan prinsip ini? Menurut Louis Berkhof, Tuhan Yesuslah yang menggantikan orang-orang berdosa itu guna menanggung murka Allah Bapa, selama mereka percaya kepada Kristus yang mati dan bangkit.
Bagaimana cara kita untuk merespons prinsip Keadilan Allah di atas? 1 Petrus 1:17 menjadi pedoman bagi kita, yaitu hidup dalam kegentaran pada-Nya. Selain itu, Yakobus 1:22 juga memotivasi kita untuk menjadi pelaku Firman Tuhan, tidak hanya menjadi pendengar saja. Pada akhirnya, Westminster Confession of Faith (Pengakuan Iman Westminster) mengatakan, Allah menciptakan segala sesuatunya dengan detil dan sempurna, untuk mendatangkan pujian bagi kemuliaan-Nya.
*JA
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah