Pernahkah kita berada di dalam situasi yang menyudutkan diri dan menyulitkan kita, yang membuat kita putus asa seolah-olah tidak ada jalan keluar? Ini terjadi karena kita tidak mengerti prinsip untuk berdiam diri dalam doa dan menanti kuasa Allah. Sebaliknya, saat kita menyadari kebenaran ini dan mengalami suatu pengertian yang suprarational, barulah kita mengerti akan pimpinan Allah dalam hidup kita.
Berdasarkan Kisah Para Rasul 1:12, murid-murid Tuhan Yesus tidak sekedar berdiam diri saja, namun mereka kembali ke Yerusalem untuk menaati perintah-Nya. Peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus di bukit Zaitun ini bukanlah peristiwa yang biasa, dan tentunya menakjubkan bagi manusia biasa. Tetapi, murid-murid tidak semata-mata takjub dan terpana saja, karena Tuhan Yesus sudah berfirman sebelumnya agar mereka kembali ke Yerusalem.
Istilah “kembali” pada Kisah Para Rasul 1:12 di dalam bahasa aslinya disebut hüpestrepsan/hypestrepsan, yang secara harafiah berarti kembali ke titik awal/titik yang ditentukan. Artinya, mengacu kepada apa yang terjadi sebelum Kenaikan Tuhan Yesus (penyiksaan yang berujung kepada kematian Tuhan Yesus), murid-murid Tuhan Yesus harus kembali mengingat kegagalan mereka dan melewati taman Getsemani, tempat yang menjadi saksi bisu akan kelalaian mereka pada saat Tuhan Yesus ditangkap. Dengan kata lain, kota Yerusalem adalah titik awal dari penginjilan murid-murid Tuhan Yesus. Kenaikan-Nya menjadi suatu pemicu bagi mereka, memberikan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa Tuhan Yesus adalah pribadi Allah yang menepati janji-Nya, yang sudah bangkit dari kematian.
Pada zaman itu, menuruti perintah itu dilakukan agar mendapat pahala atau menghindari hukuman. Namun, menuruti perintah dari Tuhan Yesus dilakukan berdasarkan relasi kita dengan-Nya, karena kita mengenal Dia sebagai Juruselamat kita, dan kita berkomitmen untuk mematuhi-Nya. Berdoa bukanlah sesuatu yang memboroskan waktu, melainkan suatu investasi relasi dengan Tuhan sampai kita menyadari akan apa yang harus dilakukan, sehingga langkah apapun yang diambil untuk menggenapkan Amanat Agung menjadi tepat.
Doa adalah suatu kesempatan khusus yang Allah berikan kepada kita. Kalau murid-murid tidak berdoa sebelum mereka pergi menginjili, maka perjalanan mereka pastinya tidak terfokus, tidak terarah, sehingga mereka tidak mampu merasakan pimpinan khusus dari Tuhan. Oleh karena itu, doa adalah suatu kesempatan khusus yang Tuhan sediakan bagi kita untuk berinteraksi dengan-Nya.
Melalui Kisah Para Rasul 1:14, kita bisa memahami bahwa para murid bertekun dengan sehati dalam doa bersama. Kata “bertekun” di dalam bahasa aslinya disebut proskarteountes, yang secara harafiah berarti melekat dengan teguh, atau setia terus-menerus. Dengan kata lain, mereka sadar kalau berdoa itu tidak bersifat instan, melainkan ada suatu proses yang berpengharapan agar Tuhan segera menggenapi kehendak-Nya. Memang, Tuhan Yesus tidak secara eksplisit memberi tahu berapa lama mereka harus berdoa, namun di sela-sela waktu berdoa mereka, ada kesempatan untuk saling membagikan kesan/perasaan mereka ketika melihat Tuhan Yesus naik ke surga (sharing), yang bisa mendekatkan mereka secara emosional di dalam Tuhan.
Kata “sehati” yang tertulis di Kisah Para Rasul 1:14 di dalam bahasa aslinya disebut homothümadon/homothymadon, yang secara harafiah berarti sepikiran, sejiwa, setujuan, dan sepakat dengan semangat yang bersatu. Selepas Kenaikan Tuhan Yesus, ada perubahan yang terjadi di dalam para Rasul, dimana mereka yang sebelumnya hanya memikirkan tentang kerajaan Israel ataupun kepentingan diri sendiri, menjadi sepakat untuk mewujudkan Kerajaan Allah melalui penggenapan Amanat Agung dan pertolongan Roh Kudus. Tanpa kesepakatan ini, selayaknya para Rasul, gereja di zaman ini bisa saja terjebak dalam melakukan berbagai macam kegiatan, tetapi melupakan pemuridan. Padahal, pemuridan adalah aktivitas yang erat hubungannya dengan Amanat Agung.
Berdasarkan penjelasan di atas, istilah “sehati” bukan hanya memiliki arti secara horizontal (manusia dengan sesamanya), namun juga vertikal (sehati dengan apa yang dikehendaki Tuhan). Itulah sebabnya kita perlu bersabar dan bertekun dalam berdoa, meminta tolong kepada Tuhan untuk mengubahkan hati kita. Hal ini juga memampukan kita untuk menyatukan hati kita dengan Kehendak Tuhan, juga menikmati kebersamaan dengan sesama di dalam proses tersebut.
Timothy Keller (1950-2023) mengatakan, “the basic purpose of prayer is not to bend God’s Will to mine, but to mold my will into His”, yang berarti: “tujuan dasar doa bukanlah untuk membengkokkan Kehendak Tuhan sesuai kehendak saya, tetapi membentuk kehendak saya sesuai dengan Kehendak-Nya.” Adapun paham Timothy Keller ini sejalan dengan apa yang diutarakan oleh Agustinus (354-430), yaitu: doa berfungsi untuk menyelaraskan hati manusia dengan Allah, bukan memaksa Allah mengikuti keinginan manusia.
Pada Yohanes 14:16, ada frasa “Penolong yang lain”, yang bisa diterjemahkan menjadi lain yang berbeda (heteros), ataupun lain yang sama (allos). Konteks ayat ini berbicara bagaimana Roh Kudus, sang Penolong itu, memiliki natur pribadi yang bersifat allos. Artinya, Roh Kudus bukanlah Yesus Kristus, tetapi Dia juga memiliki natur Ilahi yang sama, sama-sama Maha Suci, Berkuasa, dan Bijaksana. Roh Kuduslah yang nanti akan menyertai murid-murid Tuhan Yesus dan memberikan mereka kuasa untuk menggenapi Amanat Agung ke seluruh dunia.
Salah satu rahasia penting agar kita dipenuhi Roh Kudus adalah dengan bersaksi kepada sesama, memiliki rencana untuk menjadikan mereka murid Tuhan Yesus. Faktanya, Petrus dan kawan-kawannya hanyalah manusia biasa, tetapi ketika mereka menyadari bahwa mereka akan dipakai Tuhan, maka Tuhan akan memberikan pertolongan kepada mereka melalui Kuasa Roh Kudus.
Kiranya kita senantiasa mempersiapkan diri untuk dipakai oleh Tuhan.
Ringkasan Khotbah ini belum di periksa oleh Pengkhotbah