Kasih merupakan keunikan dan keunggulan ajaran iman Kristen. Kasih merupakan perintah baru yang Kristus berikan kepada para murid (Yoh. 13:34). Kasih juga merupakan chord dan puncak dari seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat. 22:40). Dalam iman Kristen kasih bukan hanya dilakukan terhadap orang-orang yang baik dan yang mengasihi kita saja, tetapi juga dilakukan kepada orang-orang yang membenci dan menyakiti kita. Apakah ini mudah untuk dilakukan? Untuk menjawab pertanyaan ini mari melihat apa yang Yesus katakan kepada para murid-Nya dalam khotbah-Nya di bukit. Dalam ajaran-Nya, Tuhan Yesus berkata kepada para murid-Nya; “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu (Mat. 5:43-44; Luk. 6:27-36). Mengasihi adalah perintah radikal dari Yesus Kristus. Perintah ini seharusnya dipahami dan dilakukan oleh orang peracaya, Mengapa?
Pertama, orang para memiliki kualitas kasih yang berbeda dari kasih yang dimiliki oleh dunia. Dalam Perintah-Nya, Yesus mengajak pengikut-Nya untuk mengasihi, berbuat baik, dan mendoakan orang yang membenci, menganiaya, atau memfitnah (Mat. 5:43-44; Luk. 6:27-36). Ini bukan sekadar mencerminkan kasih Allah yang sempurna dan sejati yang melampaui batas manusiawi yang membalas dendam dan menjadikan orang percaya lepas dari kebencian. Tetapi menujukkan kualitas yang tinggi dari kasih yang dimiliki oleh orang percaya dibandingkan dengan kasih yang ada pada dunia. Dunia mengasihi orang yang mengasihi mereka, berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada mereka, tetapi orang percaya diperintahkan untuk mengasihi musuh. Kuaitas dan standar kasih orang percaya harus mencermintkan kualitas dan standar kasih Yesus. sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. (Yoh. 13:34)
Kedua, dasar dan motivasi dalam mengasihi. Apa yang menjadi menjadi dasar dan motivasi orang percaya dalam mengasihi adalah kasih Allah. Allah telah memberikan kasih-Nya kepada kita melalui Yesus Kristus. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (Yoh. 3:16; 1 Yoh. 4:10; 19). Kita mengasihi orang lain bukan karena orang lain telah lebih dahulu mengasihi kita atau telah berbuat baik kepada kita. Kalau itu yang dilakukan maka kasih kita sama dengan kasih dunia. Karena itu kasih kita bukan transaksional tapi relasional.
Ketiga Kasih sebagai tanda murid Kristus. Hidup Orang percaya harus membawa kasih dimana pun mereka berada. Ketika orang percaya tidak memiliki kasih, maka identitasnya sebagai murid Kristus tidak terlihat oleh dunia. Namun sebaliknya ketika orang percaya menghadirkan kasih maka kasik Kristus akan nampak disana. Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yoh. 13:34-35). Kasih yang ada di dalam orang percaya bukan hanya sebagai tanda sebagai murid Kristus tetapi juga menggambarkan bahwa kita ada di dalam Kristus. Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. (1 Yoh. 4:15-16)
Keempat, orang percaya harus mengaktualkan kasih secara benar. Ketika Kristus memberikan kasih, mengajarkan kasih dan memerintahkan para murid untuk mengasihi, maka Ia menginginkan orang percaya untuk memperagakan kasih dengan benar. Dalam tulisannya, Rasul Yohanes mengajak orang percaya untuk mengasihi dengan benar. “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yoh. 3:18). Yohanes menegaskan bahwa kasih sejati bukan hanya ucapan, tetapi tindakan nyata. Kasih bukan sekadar kata “aku peduli”, tetapi hadir saat orang lain membutuhkan. Kasih bukan sekadar doa di mulut, tetapi juga tangan yang menolong dan hati yang mengampuni. Hari ini, banyak orang mudah berkata baik, tetapi sulit berbuat baik. Firman Tuhan mengingatkan kita: kasih harus nyata dan tulus. Kasih bukan sekadar kata-kata tetapi suatu tindakan yang harus nyata dalam kehidup setiap orang percaya. Karena itu mari, kita yang telah mengalami kasih Allah, kita hidup dalam memperagakan kasih Allah, agar nama Tuhan dipermuliakan. Tuhan Yesus memberkati.