Ringkasan Khotbah, Minggu, 15 Februari 2026
Kesetiaan di Tengah Penghianatan (Kisah Para Rasul 1:15-26)
Pdt. Pieters Pin
Tuhan setia kepada umatnya bukan saja di dalam proyek tertentu, melainkan di dalam waktu yang cukup lama (puluhan tahun). Melalui Firman Tuhan, Dia menyatakan kesetiaan-Nya kepada kita, dan melalui doa, kita bisa mengungkapkan kesetiaan kita kepada-Nya. Sayangnya, di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus yang baik dikhianati dalam kesetiaan-Nya.
Berapa banyak orang yang ingin agar Tuhan setia kepada mereka, namun tidak mengindahkan Firman-Nya? Padahal Firman inilah yang menyadarkan mereka terhadap cara Tuhan menyatakan kesetiaan-Nya, dan ini mengakibatkan mereka menyalahkan Dia di dalam kecemasan mereka. Berapa banyak orang Kristen yang mengabaikan doa sehingga mereka tidak pernah menikmati persekutuan dan kesetiaan Tuhan yang sejati?
Kisah Para Rasul 1:16 mengajarkan kita bahwa Alkitab adalah sarana bagi kita untuk memahami berbagai peristiwa. Sewajarnya, para murid Tuhan Yesus bisa dendam kepada Yudas yang menjual Tuhan Yesus, tetapi mereka tidak mengutarakannya, karena mereka sadar kalau apa yang sudah terjadi semuanya sesuai dengan Rencana/Nubuat Tuhan, bukan kebetulan. Pemahaman ini memampukan Petrus dan kawan-kawan memiliki kestabilan jiwa di tengah guncangnya situasi yang ada.
Ketika kita mengalami peristiwa yang mendukakan kita, mungkin saja kita akan merasakan sakit hati, marah, atau dendam. Tetapi, jika kita melihat dengan perspektif Firman Tuhan, maka kita akan mencari tahu tentang apa yang menjadi Kehendak Tuhan di dalam peristiwa tersebut. Yohanes 13:18b menyatakan bagaimana Tuhan Yesus sudah menubuatkan akan pengkhianatan Yudas dengan frasa “mengangkat tumit”, yang di zaman itu artinya “menendang sesorang dengan tumit”. Pada saat itu, murid-murid lain belum sadar bahwa Tuhan Yesus sebenarnya mengutip apa yang dituliskan di dalam Mazmur 41:9, dimana nubuat-Nya sudah dinyatakan sejak Perjanjian Lama.
Kematian Yudas di dalam Kisah Para Rasul 1:18 sekilas memiliki “perbedaan” dengan apa yang dituliskan di Matius 27:5, karena kata “Prenes” pada bahasa asli (Yunani) diterjemahkan menjadi “jatuh tertelungkup”, padahal kata ini memiliki makna lain yaitu “membengkak”, yang ditafsirkan sebagai keadaan tubuh Yudas yang menggembung kita dia menggantung dirinya, sehingga isi perutnya tertumpah keluar dan jatuh di tanah. Hal ini menunjukkan bahwa sekalipun penerjemahan Firman Allah memiliki perbedaan, namun di dalam bahasa aslinya, ayat-ayat ini konsisten dan tidak kontradiktif. Kiranya hal ini meneguhkan kita dalam memandang hidup kita yang memiliki kestabilan di dalam kedaulatan Tuhan.
Saat kita mengalami peristiwa tertentu, tentunya kita akan menganalisisnya dengan rasio pemikiran kita. Tetapi, satu hal yang mungkin tidak kita sadari adalah, ada pengetahuan yang sifatnya suprarasional, yaitu pengetahuan yang sifatnya benar dan faktual namun belum bisa kita pahami, seperti jumlah galaksi yang ada di alam ini, kapan kita meninggal, dan lainnya. Melalui fakta ini, marilah kita merenungkan, apakah kita sudah menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman di dalam memandang peristiwa itu? Apakah kita sudah meneladani murid-murid Tuhan yang tidak goyah saat menghadapi rintangan? Apakah kita senantiasa percaya dan setia akan Firman Tuhan yang benar?
Kisah Para Rasul 1:24 menuliskan suatu fakta penting dimana doa adalah sarana manusia untuk memahami pimpinan Tuhan. Para murid tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan untuk menggantikan Yudas, melainkan mereka berdoa kepada Allah yang mengenal hati manusia. Mereka juga tidak mengandalkan diri sendiri, dan mereka sadar akan keterbatasan diri mereka (misalnya, salah memilih murid), sehingga mereka meminta pertolongan Allah dalam mengambil keputusan yang selaras dengan kehendak-Nya.
Banyak orang salah memahami bahwa doa bisa mengubah rencana Allah, padahal tidak. Allah memiliki rencana karena Dia adalah Allah yang Mahatahu, dan rencananya tidak akan berubah. Inilah Kehendak Allah yang ditetapkan dari kekekalan secara sempurna. Tetapi, ada juga yang mungkin bertanya, mengapa kita masih harus berdoa kalau kita sudah mengetahui akan Rencana Allah yang tidak mungkin berubah? Di dalam Alkitab, ada 2 macam Kehendak Allah, yaitu kehendak-Nya yang tidak dinyatakan namun pasti digenapi (contoh: pengkhianatan Yudas), dan kehendak-Nya yang sudah dinyatakan namun dilanggar manusia (contoh: Sepuluh Perintah Allah). Ketika kita memahami 2 konsep kehendak ini, barulah kita menyadari kalau dalam perjalanan kita melintasi “labirin kehidupan”, kita harus memohon pimpinan Allah di dalam “labirin” yang Allah ciptakan itu, supaya kita tidak tersesat. Dengan kata lain, doa meluruskan kehendak kita agar sejalan dengan Kehendak Allah. Marilah kita menyadari kalau Allah itu setia dan mau menolong kita melalui Firman-Nya, maupun orang-orang di sekitar kita.
Pada akhirnya, kita harus mengakui bahwa rasio kita terbatas, dan kita harus selalu berdoa, meminta pertolongan Tuhan dalam menempuh perjalanan kehidupan kita. Marilah kita juga mengikuti teladan murid-murid Tuhan Yesus: setia mempelajari Firman Tuhan yang menyatakan kehendak-Nya, dan berdoa untuk diarahkan mengikuti pimpinan Tuhan.
*JA
Ringkasan Khotbah ini belum di periksa oleh Pengkhotbah