Ringkasan Khotbah, Minggu, 12 April 2026
Hidup ini memang berisi hal-hal positif dan negatif, selayaknya bohlam lampu listrik yang hanya bisa menyala dengan aliran listrik yang bersifat positif sekaligus negatif. Seringkali, manusia hanya berpikir positif saja, atau bahkan berpikir negatif saja, padahal seharusnya kita harus berpikir secara realistis, dan Allah sendiri bersifat supra-realita (melebihi realita itu sendiri).
Pentakosta (Yunani: “pentkost”, artinya lima puluh) sendiri akan jatuh di tanggal 24 Mei 2026. Di dalam Perjanjian Lama diajarkan, sesudah 7 kali hari Sabat (7 x 7 hari), akan ada hari panen gandum yang pertama, yaitu hari ke-50. Hal ini dilambangkan di Perjanjian Baru berupa 10 hari setelah Tuhan Yesus bangkit, di mana Dia akan “memanen” jiwa-jiwa baru, dan Kisah Para Rasul 2:1-13 mencatat setidaknya ada 15 bangsa yang akan mengalami itu.
Kehidupan positif dan negatif juga bisa dilihat secara Kristen, seperti orangtua yang memberitahu kepada anaknya bagaimana mereka sudah terlebih dahulu berbuat dosa (negatif), namun mereka juga sudah terlebih dahulu diampuni Allah dan menikmati anugerah-Nya (positif).
Kisah Para Rasul 1:8 menuliskan, Allah berjanji kepada orang Yahudi di Galilea, yaitu daerah yang sebenarnya bukan daerah orang Yahudi. Namun, seiring dengan perkembangan sosiologis dan dinamika masyarakat, orang Yahudi yang tinggal di Israel selatan (Yudea) memandang rendah orang Galilea. Dengan kata lain, janji Allah itu disampaikan kepada orang-orang “rendah”, yang akan bersaksi di Yerusalem, suatu daerah yang prestigius di zaman itu, dan mustahil secara rasional bagi orang Yerusalem untuk menanggapi mereka (Kisah Para Rasul 2:7). Inilah salah satu karya Allah di dalam hari Pentakosta, di mana hal yang mustahil bisa menjadi kenyataan. Fenomena ini bukan tidak mungkin juga terjadi di dalam kehidupan rohani orang Kristen di zaman ini,
Ejekan dan hinaan memang adalah bagian dari Penginjilan yang Tuhan Yesus perintahkan (Kisah Para Rasul 1:12), hal negatif yang berada bersama dengan rasa syukur dan terima kasih dari orang-orang yang mengalami kesaksian dari kita (hal positif). Inilah realita yang memang ada di dalam dunia ini, yang tidak bisa kita pungkiri. Oleh karena itu, kita harus selalu terikat dan bergantung kepada Allah, mengimani kehadiran-Nya di dalam menghadapi pujian maupun hinaan yang kita dengar.
Ejekan dan hinaan biasanya timbul karena ketidakpahaman seseorang akan Firman Tuhan, namun kiranya kita, orang percaya, mau belajar untuk mengandalkan Allah, meminta hikmat dari-Nya untuk menghadapi/menginjili orang-orang yang belum percaya, khususnya mereka yang memiliki berbagai macam suku bangsa dan budaya yang berbeda-beda.
JA
Ringkasan Khotbah ini belum di periksa oleh Pengkhotbah